Dalam lanskap komunikasi sehari-hari, kita sering dihadapkan pada pilihan kata yang tampak sepele namun krusial. Salah satu dilema yang paling sering muncul dalam bahasa Indonesia adalah antara “merubah” dan “mengubah”. Meskipun “merubah” sangat lazim digunakan dalam percakapan, bahkan dalam lirik lagu populer, bentuk yang benar dan baku menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah mengubah.
Kesalahan ini bukan sekadar persoalan ejaan, melainkan menyangkut pemahaman dasar tentang struktur dan pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Kata “mengubah” berasal dari kata dasar “ubah”, yang berarti menjadikan sesuatu lain dari semula. Sebaliknya, “merubah” secara keliru mengaitkan tindakan perubahan dengan kata “rubah”, yaitu nama seekor hewan.
Memahami perbedaan ini penting, tidak hanya untuk lolos ujian bahasa, tetapi juga untuk meningkatkan presisi dan kewibawaan dalam berkomunikasi formal. Mari kita telusuri lebih dalam mengapa “mengubah” adalah pilihan yang tepat dan bagaimana kesalahan umum ini bisa begitu mengakar dalam penggunaan bahasa kita.
Membedah Akar Kata: Ubah vs. Rubah
Untuk memahami inti persoalan, kita harus kembali ke fondasi paling dasar: kata dasar. Perbedaan antara “mengubah” dan “merubah” terletak pada dua kata dasar yang sangat berbeda, yaitu ubah dan rubah.
Makna ‘Ubah’ dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata dasar ubah adalah sebuah verba (kata kerja) yang bermakna “tukar” atau “ganti”. Dari kata dasar ini, lahir berbagai turunan kata yang berkaitan dengan konsep perubahan, seperti:
- Berubah: Menjadi lain atau berbeda dari semula (kata kerja intransitif).
- Perubahan: Hal atau keadaan berubah; sebuah peralihan atau pertukaran.
- Pengubahan: Proses, cara, atau perbuatan mengubah sesuatu.
Semua kata ini berpusat pada gagasan transformasi atau modifikasi dari satu keadaan ke keadaan lain.
Makna ‘Rubah’ dalam KBBI

Di sisi lain, rubah adalah sebuah nomina (kata benda) yang merujuk pada mamalia karnivora dari keluarga anjing, yang dikenal dengan moncong panjangnya. Hewan ini sering muncul dalam dongeng-dongeng terjemahan dari Eropa, tetapi bukan merupakan fauna asli Indonesia.
Secara semantik, tidak ada hubungan antara konsep “mengganti sesuatu” dengan hewan “rubah”. Oleh karena itu, menggunakan kata “merubah” untuk menyatakan tindakan perubahan adalah sebuah kesalahan leksikal atau pemilihan kata yang tidak tepat .
Aturan Morfologis yang Menjelaskan Semuanya
Kebingungan ini dapat dijernihkan dengan memahami proses morfologis, yaitu cabang linguistik yang mempelajari pembentukan kata. Dalam bahasa Indonesia, penambahan imbuhan (afiksasi) pada kata dasar mengikuti aturan yang sistematis.
Proses Pembentukan Kata dengan Awalan ‘meN-‘
Awalan meN- adalah salah satu imbuhan paling produktif untuk membentuk kata kerja aktif transitif (kata kerja yang memerlukan objek). Awalan ini memiliki beberapa variasi bentuk (alomorf) yang menyesuaikan diri dengan huruf pertama dari kata dasar yang dilekatinya.
Aturan kuncinya adalah: ketika awalan meN- bertemu dengan kata dasar yang diawali oleh huruf vokal (a, i, u, e, o), bentuknya akan berubah menjadi meng-.
Berikut adalah contoh penerapannya:
meN-+ ubah → mengubahmeN-+ atur → mengaturmeN-+ olah → mengolahmeN-+ ikat → mengikat
Aturan ini sangat konsisten dan berlaku untuk ribuan kata dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, secara kaidah, satu-satunya bentuk yang benar dari kata dasar “ubah” dengan awalan meN- adalah “mengubah”.
Mengapa ‘Merubah’ Tidak Tepat?
Bentuk “merubah” secara gramatikal tidak dapat dibenarkan. Jika kita mencoba menganalisisnya, kata ini seolah-olah terbentuk dari awalan me- dan kata dasar “rubah”. Awalan me- memang ada dan digunakan untuk kata dasar yang berawalan r, l, m, n, w, dan y.
Jadi, me- + rubah → merubah secara teknis bisa terbentuk. Namun, maknanya akan menjadi “menjadi seperti rubah” atau “menyerupai rubah”, bukan “mengganti atau menjadikan lain”. Inilah yang menyebabkan kebingungan makna jika digunakan dalam konteks yang salah. Tidak ada awalan mer- dalam kaidah pembentukan kata kerja aktif di bahasa Indonesia.
Fenomena “Merubah” yang Sulit Diubah
Meskipun salah secara kaidah, kata “merubah” telah mengakar kuat dalam penggunaan bahasa lisan dan tulisan non-formal. Bahkan, kata ini tercatat oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai salah satu kata yang paling sering salah diucapkan oleh masyarakat Indonesia.
Kebiasaan dan Kesalahpahaman Umum
Salah satu dugaan kuat penyebab meluasnya penggunaan “merubah” adalah karena analogi yang keliru dengan kata berubah (ber- + ubah). Karena bentuk “berubah” sudah sangat umum, banyak penutur secara tidak sadar membentuk kata kerja aktifnya menjadi “merubah”, tanpa menganalisis aturan morfologis yang benar.
Faktor lainnya adalah karena kata “rubah” (hewan) jarang menjadi referensi dalam benak penutur bahasa Indonesia, sehingga makna harfiah “menjadi rubah” tidak pernah terlintas. Konteks kalimat biasanya sudah cukup untuk membuat lawan bicara memahami bahwa yang dimaksud adalah “mengubah”, sehingga kesalahan ini terus berlanjut tanpa koreksi. Fenomena ini bahkan ditemukan dalam banyak lirik lagu populer Indonesia.
Pentingnya Bahasa Baku
Meskipun dapat dimaklumi dalam percakapan santai, penggunaan bahasa baku menjadi sangat penting dalam situasi formal. Dalam penulisan karya ilmiah, dokumen resmi, surat-menyurat bisnis, dan komunikasi profesional lainnya, penggunaan kata “mengubah” menunjukkan penguasaan bahasa yang baik dan meningkatkan kredibilitas penulis. Menggunakan bahasa yang sesuai kaidah memastikan pesan tersampaikan dengan jelas, terstruktur, dan tanpa ambiguitas.
Kesimpulan: Memilih Kata yang Tepat
Pada akhirnya, pilihan antara “merubah” dan “mengubah” adalah pilihan antara kebiasaan dan kaidah. Berdasarkan seluruh analisis kebahasaan dan rujukan pada KBBI, kesimpulannya sangat jelas:
- Mengubah adalah bentuk yang baku dan benar untuk menyatakan tindakan “menjadikan lain dari semula”.
- Merubah adalah bentuk tidak baku yang sebaiknya dihindari dalam konteks formal, karena secara harfiah dapat diartikan “menjadi seperti rubah”.
Bahasa memang dinamis dan terus berevolusi. Namun, memahami dan menerapkan aturan dasarnya adalah kunci untuk berkomunikasi secara efektif dan profesional. Jadi, lain kali Anda ingin menulis tentang sebuah transformasi, ingatlah bahwa Anda ingin mengubah sesuatu, bukan merubah-nya menjadi seekor rubah.
